CIBINONG - Artefak purbakala Batu Kuya yang hilang pada 23 September ternyata masih berada di Jalan Cilincing Nomor 23 Gudang Karya Budi Mulya Jakarta. Artefak purbakala yang diduga peninggalan abad IV itu hilang di lokasi awalnya di Kampung Cinyusuh Desa Cileuksa Kecamatan Sukajaya.
Data dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Bogor, artefak Batu Kuya dicobausahakan untuk dibawa oleh salah satu pihak ke seorang pembeli yang berasal dari Korea Selatan. Artefak dengan material batu berbentuk kura-kura itu rencananya langsung dibawa ke Korea Selatan. Namun terlanjur terendus pihak berwenang.
Hingga saat ini pelaku penjual dan pembeli belum diketahui. “Penjualnya belum teridentifikasi, tapi pembelinya diperkirakan orang Korea Selatan,” ujar Kepala Disparbud Kabupaten Bogor Ridwan Ardiwinata.
Hilangnya Batu Kuya baru teridentifikasi setelah Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Serang pada Selasa (23/9) memberitahu Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Bogor.
Tiga hari berselang, Direktorat Peninggalan Purbakala Dirjen Sejarah dan Purbakala Departemen Kebudayaan dan Pariwisata (Depbudpar) pun memberitahukan perihal kehilangan tersebut. BP3 dan Depbudpar menduga Batu Kuya yang hilang itu merupakan benda cagar budaya yang harus dilestarikan.
Atas laporan ini Disparbud kemudian menindaklanjuti laporan dari BP3 dan Depbudpar dengan cara mendatangi lokasi dan melaporkan ke Polres Bogor pada Senin (29/9).
Kemarin, perwakilan Disbupar Kabupaten Bogor, BP3 Serang, Depbudpar, Mabes Polri hingga ahli purbakala mendatangi lokasi ditemukannya penyimpanan Batu Kuya di Cilincing. Dari sana, aparat gabungan ini mengindentifikasi sejauhmana batu itu memiliki nilai sejarah.
“Batu itu akan diidentifikasi lagi oleh ahli purbakala. Sedangkan pihak kepolisian langsung mencari siapa pelakunya,” kata Ridwan. Bisa diduga batu seberat 50 ton ini bakal dikembalikan lagi ke lokasi awalnya di Kecamatan Sukajaya atau ditaruh di museum purbakala.
Batu Kuya adalah batu yang memiliki bentuk mirip kura-kura. Beratnya diperkirakan mencapai 50 ton dengan panjang 8 meter, lebar 3 meter dan tinggi kira-kira empat meter. Karena cukup besar dan berat, diduga batu ini baru bisa dibawa menggunakan kontainer dalam jangka waktu satu minggu sejak 15 September hingga 22 September lalu. Si pencuri sepertinya harus membuka jalan agar truk kontainer bisa mendekati lokasi situs.
Menanggapi hal tersebut, Ketua DPRD Kabupaten Bogor Harun Arrasyid mengimbau Disbudpar Kabupaten Bogor lebih jeli dan peduli terhadap situs purbakala maupun situs sejarah lainnya. Dia berharap Batu Kuya tersebut bisa dikembalikan lagi ke tempat semula.
Sekretaris DPD Partai Golkar Kabupaten Bogor ini meminta Disbudpar segera mendata lebih detail kekayaan budaya berupa benda purbakala yang ada di Kabupaten Bogor. “Disbudpar harus proaktif. Masyarakat sekitar pun harus bersama-sama menjaga kelestarian budaya yang ada di sekitar lingkungannya,” kata Harun.
Sementara itu, petugas Reskrim Polres Bogor belum bisa menyelidiki hilangnya Batu Kuya. Sebab, masih harus diselidiki keasliannya.
Kasat Reskrim Polres Bogor AKP M Santoso mengatakan, pihaknya sudah mendapat laporan dari Dirjen Sejarah dan Purbakala mengenai hilangnya batu yang diperkirakan memiliki nilai sejarah dari lokasinya di Kampung Cinyusuh Desa Cileuksa Kecamatan Sukajaya.
“Sebelumnya memang ada laporan dari petugas Dirjen Sejarah dan Purbakala mengenai artefak purbakala yang hilang di Desa Cileuksa. Tapi, laporan itu belum secara resmi karena tidak ada data permulaan yang kuat,” ujarnya.
Meski keaslian artefak tersebut masih diragukan, kepolisian tetap menindaklanjuti laporan sambil menunggu hasil penelitian dari pemerintah. Jika benda itu memiliki nilai sejarah maka akan diproses sesuai hukum yang berlaku. (ndi/pin)
http://www.radar-bogor.co.id/?ar_id=MTkyOTU=&click=MTky
informasi ini dipersembahkan oleh i love bogor [dot] com
Posted under Berita Bogor
This post was written by i love bogor on October 11, 2008








i love bogor Reply:
October 21st, 2008 at 12:47 pm
yup semoga pihak yang terkait dan masyarakat pada umumnya semakin sadar akan pentingnya menjaga sejarah dan budaya bangsa ini